Lukas Enembe Kunjungi Papua Nugini

0
2997
Gubernur Lukas Enembe saat tiba di Bandara Internasional Jackson, Port Moresby, Papua Nugini. Dari kiri: Dubes RI untuk PNG, Ronal Manik, Lukas Enembe dan Gubernur Distrik Ibukota Nasional PNG, Powes Parkop dan sejumlah pejabat lainnya (Foto: Wanpis Ako/RNZ)

PORT MORESBY, RNZ/SUARAPAPUA.com – Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe, mengatakan rakyat Papua harus dapat terhubung dengan rakyat di negara tetangga yaitu Papua Nugini.Hal itu ia katakan saat mengunjungi ibukota PNG, Port Moresby, seperti dilaporkan situs berita berbasis di Selandia Baru, RNZ hari ini (19/09).

Enembe melakukan perjalanan ke PNG untuk menghadiri perayaan ulang tahun ke-43 kemerdekaan negara itu di Port Moresby.

Enembe yang baru terpilih kembali sebagai gubernur mengatakan bahwa seharusnya tidak perlu 43 tahun bagi PNG dan Papua untuk melakukan kontak formal.

“Mengapa kami tidak datang ke PNG dan terhubung dengan mereka selama ini, selama bertahun-tahun, itu tidak baik,” ia berkata dalam wawancara dengan RNZ lewat telepon dari Port Moresby.

“Itu sebabnya saya berpikir kami harus membuka hubungan dengan PNG, kami harus bekerja sama secara ekonomi, politik, budaya, itu baik untuk rakyat kami, baik untuk pemerintah kami,” lanjut Enembe.

“Kami harus lebih dekat dengan PNG, mereka sangat penting di Kepulauan Pasifik, itulah mengapa kami harus bekerja sama dengan mereka.”

Selama bertahun-tahun, hubungan di antara masyarakat di perbatasan PNG terbatas, sebagian dikarenakan jaringan transportasi yang buruk dan lainnya karena pembatasan oleh pihak Indonesia.

Enembe mengatakan bahwa pemerintah Indonesia juga melihat manfaat hubungan yang lebih dekat dengan PNG, dan tidak menentang kunjungannya minggu ini.

“Pemerintah saya berkata, ‘Anda pergi, ini sangat penting,’ karena adalah baik membangun hubungan dengan PNG. Mereka tidak takut akan hal ini (kunjungan ke PNG).”

Menurut Menteri Luar Negeri PNG, Rimbink Pato, kedua negara memiliki hubungan yang erat dimana semua masalah kepentingan bersama, termasuk masalah perbatasan yang sensitif, dibahas secara konstruktif.

Dia menanggapi kritik Gubernur Distrik Ibu Kota Nasional PNG, Powes Parkop, yang pekan lalu berbicara tentang pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Papua.

Parkop mengkritik pemerintah PNG dan Indonesia karena tidak menghadapi masalah hak asasi manusia di Papua secara terbuka.

Namun, Pato membantah bahwa ada kekurangan interaksi mengenai Papua. Ia mengatakan PNG menyambut baik kebijakan pemerintah Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo untuk mengambil pendekatan yang mengedepankan pembangunan atas Papua daripada pendekatan yang mengedepankan keamanan.

Gubernur Enembe mengatakan Presiden Jokowi menyadari permasalahan di Papua dan sering bepergian ke Papua.

Lebih jauh Enembe mengatakan, walau Papua telah mendapat otonomi khusus pada tahun 2001, pelaksanaannya tidak berjalan dengan baik, karena Jakarta masih mengendalikan urusan di provinsi Papua.

Dia berterus terang tentang dampak pasukan keamanan Indonesia di Papua.

“Setiap hari rakyat saya dibunuh,” kata Enembe. “Itu sebabnya saya pikir … militer Indonesia, polisi Indonesia, mereka sudah berhenti berpikir tentang kemanusiaan di Papua.

“Beberapa orang di pegunungan, dan di pantai, mereka datang kepada saya, mereka menangis, menangis tentang apa yang terjadi di Papua, dan kemanusiaan sangat penting.”

Enembe mengatakan Papua sedang menuju kematian pada tingkat yang sangat mengganggu melalui tiga penyebab utama: Karena pelayanan kesehatan yang terabaikan, karena penyebaran HIV / AIDS, dan Karena pembunuhan yang diduga dilakukan oleh pasukan keamanan.

“Kami menjadi minoritas … banyak orang meninggal… Saya tidak tahu … apakah ini dengan sistem … Saya tidak tahu.”

Dia mengatakan Indonesia telah menguasai (co-opted) tanah, mineral dan sumber daya hutan Papua, sementara orang Papua sebagian besar dibiarkan tanpa suara dalam masalah ini. Menurutnya, itulah mengapa orang Papua perlu terhubung kembali dengan orang-orang PNG, kerabat Melanesia mereka.

“Kami bisa membuka jaringan ke PNG, Papua dan PNG … Karena ini adalah tanah kami, dari Sorong ke Samarai adalah satu tanah. Satu tanah. Orang Papua Nugini dan orang Papua, kita memiliki satu tanah, satu budaya, pulau ini. “

Port Moresby dan kota Jayapura sedang merencanakan program pertukaran di bidang tradisi, budaya, ekonomi, sosial, dan hubungan sister-city mereka.

“Saya ingin bekerja menuju hal-hal kecil seperti itu,” kata Parkop.

“Mengirim tim sepak bola Pesipura [Jayapura] Anda untuk menantang tim lokal kami atau berpartisipasi di Danau Sentani atau Festival Jayapura dapat mengawali membuka dan mengembangkan hubungan yang tidak didasarkan pada rasa takut.”

Setelah berkunjung ke Port Moresby, Enembe menuju ke kota kedua tujuan lawatannya yaitu Lae, di mana dia berharap untuk menandatangani perjanjian kerjasama ekonomi dengan pemerintah provinsi Morobe.

Kemudian sebelum kembali melintasi perbatasan, Enembe akan mengunjungi kota-kota utara Madang dan Wewak, membangun hubungan lebih lanjut antara provinsinya dan PNG.

Pewarta: Redaksi
Sumber: RNZ