Keluarga Korban: Otianus Ditembak dengan Sniper dari Jarak 50 Meter

0
2524

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Keluarga korban Otianus Sondegau (16) yang ditembak mati oleh anggota Brimob di Sugapa mengatakan, Otianus ditembak dengan menggunakan senjata jenis Sniper dari jarak 50 meter di depan halaman rumanya pada 27 Agustus 2016 pukul 10.30 WIT.

Dalam pernyataan sikap yang diterima suarapapua.com, keluarga korban menjelaskan, semenjak Brimob datang ke Sugapa, banyak kasus sewenang-wenang yang dilakukan oleh anggota Brimob di Sugapa, Intan Jaya.

Baca: Ini Kronologis Penembakan di Sugapa Versi Keluarga Korban

Selama Brimob berada di Intan Jaya sudah beberapa kasus yang dilakukan. Antara lain, penembakan terhadap Seprianus Japugau di lapangan sepakbola Sugapa pada September 2014, pengeroyokan terhadap enam pemuda pada 7 Maret 2016, penembakan terhadap Malon Sondegau pada 25 Agustus 2016 dan masih banyak kasus pemukulan yang dilakukan aparat Brimob.

“Terakhir, brimob tembak mati Otianus di depan rumahnya pada 27 Agustus 2016 pada pukul 10.30. mereka (Brimob) tembak dengan Sniper dari jarak 50 meter dan kemudian dua peluru bersarang di dalam tubuh Otianus dan meninggal dunia,” ungkapnya dalam pernyataan sikap tersebut.

ads
Baca Juga:  TPNPB Umumkan Duka Nasional Atas Meninggalnya Mayor Detius Kogoya di Paniai

Baca: Ini Catatan Ulah Brimob Polda Papua di Sugapa

Sementara itu , mahasiswa Intan Jaya  di Jayapura mempertanyakan keberadaan aparat Briomob Intan Jaya, Papua. Menurut mahasiswa, pasca penembakan terhadap Seprianus Japugau di lapangan sepak bola pada tahun 2014, semua pihak termasuk Pemkab Intan Jaya telah sepakat untuk tarik Brimob ke Polda Papua.

“Masyarakat sudah menyatakan sikap untuk tarik kembali Brimob dari Intan Jaya. Tetapi ini masih ada di Intan Jaya dan buat ulah lagi. Maka itu kami minta supaya pemerintah daerah dan Polda Papua harus bertanggungjawab. Intan Jaya bukan tempat berburu manusia untuk Brimo. Harus tarik kembali dan Pemkab Intan Jaya harus bertanggung jawab,” tegas Oten Tipagau kepada wartawan di Jayapura.

Baca Juga:  Satu Anggota TNI AL Diduga Tembak Diri di Markas Lantamal XIV Sorong

Kata Tipagau, masyarakat intan jaya sudah biasa hidup damai dengan anggota polisi di Polsek Sugapa dan TNI di Koramil Sugapa.

“Masyarakat sudah tinggal baik dengan polisi dan TNI yang ada. Tapi kenapa bupati datangkan lagi Brimob. Ini untuk mengamankan bisnis atau untuk apa? Karena Brimob ini bikin ulah terus. Intan Jaya bukan daerah konflik,” tegasnya lagi.

Sebelumnya, Komisioner Komnas HAM RI, Natalius Pigai mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus penembakan terhadap seorang warga Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua yang dilakukan oleh Brimob, Sabtu (27/8).

“Terkait peristiwa penembakan yang menewaskan satu orang oleh kesatuan anggota Brmob di Intan Jaya, kami telah menyampaikan secara langsung kepada Kapolri dan Kapolda Papua supaya turunkan tim untuk proses penegakan hukum, baik displin, pidana, maupun kode etik,” tegas Natalius dalam keterangannya kepada Media Indonesia, Senin (29/8/2016) seperti dikutip suarapapua.com dari mediaindonesia.com.

Baca Juga:  Kasus Moses Yewen Belum Jelas, Kepala Distrik Fef Tolak Kehadiran Satgas Yonif 762

Selain itu, ia juga meminta pihak keamanan agar mampu memberikan jaminan kedamaian pascaperistiwa tersebut.

“Demikian pula pemerintah daerah agar dapat menyelesaikan persoalan ini bersama keluarga korban,” sambung Natalius.

Hal lain yang tidak kalah penting, kata dia, adalah penertiban ojek-ojek dan peredaran minuman keras yang seringkali memicu konflik.

“Kejadian yang melibatkan tukang ojek atau akibat miras memang banyak di Papua sehingga kami minta agar ini betul-betul ditertibkan,” tegasnya.

Baca: Komnas HAM Minta Polri Usut Penembakan di Sugapa

Pewarta: Arnold Belau dan Harun Rumbarar

 

Artikel sebelumnyaIni Kronologis Penembakan di Sugapa Versi Keluarga Korban
Artikel berikutnyaIni Tuntutan Keluarga Korban Terkait Penembakan Terhadap Otianus Sondegau