Perlakuan Rasisme dari Kolonialisme, Indonesia di Masa Lalu dan Papua di Masa Sekarang

0
3040

Oleh: Nourish C. Griapon)*

Old pirates, yes, they rob I. Sold I to the merchant ships. Minutes after they took I from the bottomless pit. But my hand was made strong by the hand of the Almighty. We forward in this generation Triumphantly

Won’t you help to sing these songs of freedom?
‘Cause all I ever have
Redemption songs
Redemption songs
 

Emancipate yourselves from mental slavery. None but ourselves can free our minds have no fear for atomic energy. ‘Cause none of them can stop the time. How long shall they kill our prophets while we stand aside and look? Ooh Some say it’s just a part of it We’ve got to fulfill the Book

Won’t you help to sing these songs of freedom?
‘Cause all I ever have
Redemption songs
Redemption songs
Redemption songs
 

ads

                                                (Redemption Song – Bob Marley)

Rasisme sendiri adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin (gagasan) yang diciptakan manusia yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya. Hal ini berakibat pada pandangan untuk membeda-bedakan orang berdasarkan dari warna kulit, suku, hingga daerah tinggal, bahkan rasisme dapat menimbulkan tindakan kriminal.

Keberadaan rasisme di dunia ini sudah sangat lama, konstruksi pikiran atau gagasan sosial yang dibentuk oleh para penjajah di suatu kawasan tertentu dengan tujuan melemahkan inlander atau pribumi setempat ini (mungkin) dimulai pada awal mula penjelajahan abad 15 awal hingga abad 17 akhir. Rasisme juga berkembang hebat pada abad penjajahan yang dilakukan bangsa Eropa. Tidak heran bahwa inlander atau pribumi sering mendapat perlakuan rasis ketika daerah mereka dijajah oleh bangsa-bangsa penjajah. Hal ini juga menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida.  Sehingga istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial.

Baca Juga:  Penebangan Hutan dan Masuknya Perusahaan Tambang Emas Ilegal serta Sengketa Tapal Batas di Kapiraya, Provinsi Papua Tengah

Di dunia perlakuan rasis hingga saat ini masih tetap dirasakan, tentunya kita tidak lupa terhadap perlakuan rasis yang diterima genosida terhadap bangsa Yahudi oleh NAZI, atau American-African, Latinos, kawan-kawan muslim termasuk muslim Uyhgur, ras Rohingnya (termasuk muslim), Hindu, Budha, Kristen, LGBTIQ, difabel, kaum miskin kota juga kelompok rentan lain yang dikelompokkan karena jumlahnya yang minoritas di dalam sebuah kelompok dengan mayoritas penganut atau penduduk tertentu.

Di Indonesia sendiri rasisme masih selalu ada tentunya ini tidak lahir dari luar bangsa ini, mengingat di abad 16 hingga abad 19 selama Belanda menduduki Indonesia mereka pun diberikan perlakuan rasis terhadap mereka. Hingga sekarang pun rasisme tetap dirasakan di Indonesia, rasis terhadap kepercayaan, rasis terhadap pendidikan, rasis terhadap ekonomi, rasis terhadap kelompok rentan diskriminasi bahkan paling gila adalah rasis terhadap ras tertentu.  Misalnya  rasis yang berkembang hebat hingga saat ini (mungkin) terhadap kelompok etnis China (penyebutan sekarang Tionghoa).

Akar kebencian rasialis terhadap kelompok minoritas Tionghoa di Indonesia mengulang sejarah dirinya sendiri. Pertama sebagai tragedi dan selanjutnya sebagai lelucon. Kelompok Tionghoa di Indonesia sudah mengalami banyak diskriminasi.

Penelitian Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan hasil dari politik pecah belah Soeharto. Dalam jurnal penelitian berjudul “Political Institutions and Ethnic Chinese Identity in Indonesia”, Freedman menyebut Soeharto memaksa masyarakat Tionghoa untuk melakukan asimilasi sembari mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi. Sebagian kecil etnis Tionghoa di Indonesia pada masa Soeharto menikmati berbagai fasilitas investasi sehingga menjadi sangat kaya. Sekelompok kecil ini akhirnya dianggap sebagai representasi seluruh etnis Tionghoa, sebagai kelompok yang memiliki kekuasaan dan punya kekayaan dengan cara yang culas. Kejatuhan Soeharto pada 1998 membuat pembedaan ini menjadi semakin rumit. Kerusuhan yang muncul di berbagai kota di Indonesia menargetkan masyarakat Tionghoa sebagai sasaran kebencian.

Kebencian terhadap etnis Tionghoa sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang dibikin oleh penguasa, baik Belanda maupun Jawa. Hendri F. Isnaeni, dalam artikel Duka Warga Tionghoa di majalah Historia, menyebutkan bahwa dalam sejarah, beberapa kali etnis Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. Mulai Chinezenmoord 1740 sampai Mei 1998. Dalam konteks Perang Jawa masyarakat Jawa saat itu membenci orang Tionghoa karena menjadi bandar-bandar pemungut pajak. Orang-orang Tionghoa oleh para Sultan Jawa dijadikan bandar-bandar pemungut pajak di jalan-jalan utama, jembatan, pelabuhan, pangkalan di sungai-sungai dan pasar. Melihat efektifnya orang-orang Tionghoa memungut pajak, Belanda dan Inggris melakukan hal yang sama di daerah-daerah yang telah dikuasainya.

Baca Juga:  Operasi Bibida dan Misi Ekspansi Militer

Merupakan sebuah ironi 74 Tahun berdirinya negara Indonesia, ternyata tetap masih terjajah oleh ideologi peninggalan kaum penjajah. Yakni dengan memandang orang lain lebih rendah daripada komunitas atau keyakinan bahkan rasnya sendiri.

Sebutan Monyet dan Kera

Pada tetralogy buru yang di tulis oleh Pramoedya Ananta Toer (Pram) mengemukakan bahwa sebutan atau panggilan Minke sebenarnya merupakan plesetan dari Monkey. Nama Minke sendiri ia dapat dari bentakan gurunya di Hoogere Burgerschool (HBS), dengan berteriak di dalam kelas “Diam kamu Monk…, Minke” dan sejak saat itu kawan-kawannya memanggilnya dengan sebutan Minke. Sungguh sebuah legitimasi penghinaan bagi seorang pribumi yang bersekolah di HBS pada saat itu. Benar, tetralogy ini bercerita tentang pencarian jati diri hingga nasionalisme seorang pemuda jawa tulen pribumi yang akhirnya jatuh cinta pada seorang noni keturunan Indo-Belanda dan akhirnya berpisah karena rasis dan juga diskriminasi yang diberikan oleh bangsa Belanda hingga perjalanannya menjadi seseorang yang mempunyai nasionalisme terhadap bangsanya sendiri.

Pram memberikan gambaran penghinaan bangsa Eropa terhadap pribumi dengan beberapa cara pandang terhadap Minke sebagai seorang keturunan priyayi juga bangsawan pribumi, kepada masyarakat kecil seperti petani dan nelayan, bangsa lain seperti pada etnis China juga pada keturunan Indo. Mereka mempunyai tempat dengan stigma bahkan posisi tertentu dalam berbagai hal. Misalnya cerita Nyai Ontosoroh yang akhirnya dijual oleh kedua orang tuannya karena mereka mempunyai tuan. Sehingga selama hidupnya Nyai Ontosoroh adalah seorang perempuan “yang dipelihara” tuan Belandanya.

Baca Juga:  Papua Menuju Puncak Kemenangan Iman

Tentunya sebuah ironi, dengan memperlihatkan sejarah rasialisme bangsa lain terhadap bangsa Indonesia dalam bacaan-bacaan tetapi pada akhirnya mengukir sejarah bagi masa depan dengan beberapa kejadia di masa sekarang yakni meneriaki orang atau kelompok bahkan bangsa lain dengan sebutan monyet maupun kera.  Sehingga sebutan monyet dan kera ini dapat diberikan cara pandang sebagai sebutan yang selalu diberikan oleh para penjajah kepada pribumi selama bertahun-tahun Indonesia dijajah bangsa Eropa. Dan sisa peninggalan rasisme dari bangsa penjajah membekas pada bangsa yang telah dijajah 350 tahun ini. Bahkan dengan mental terjajah malah menjajah orang, kelompok dan bangsa lain.

Kita tidak lupa dengan kejadian “Pengepungan Asrama Kamasan I Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 15 Juli 2016” waktu itu berkumpul aparat, ormas-ormas reaksioner yang meneriaki kawan-kawan kami dengan sebutan Monyet Papua, Keturunan Kera Papua.  Lalu belum lagi beberapa tindakan represif yang dilakukan oleh aparat dan ormas-ormas rekasioner hingga kemarin tepat pada tanggal 15 Agustus hingga 19 Agustus 2019 tindakan represif dilakukan di berbagai daerah. Di Surabaya kata Monyet kembali diteriakan, pengusiran dari beberapa daerah termasuk Malang hingga represif yang dilakukan aparat dan ormas-ormas dengan mendatangi asrama-asrama mahasiswa Papua di Semarang, Medan, Makassar.

Perlakuan rasis seperti ini terus menjalar hingga ke seluruh kota-kota bahkan daerah-daerah di seluruh Indonesia. Tapi, dengan demikian bukankah rasialisme yang diteruskan bangsa ini merupakan sebuah praktek kolonialisme dan harus kita akhiri sekarang juga. Tentu saja demikian sebab Frantz Fanon, dalam bukunya yang berjudul The Wretched of the Earth mengatakan “For a colonized people the most essential value, because the most concrete, is first and foremost the land: the land which will bring them bread and, above all, dignity.” 

Untuk itu, bangkitlah Monyet dan Kera. Sekarang ambillah jalan mengakhiri penindasan sekarang juga bagi Papua!!!

)* Penulis adalah aktivis Perempuan Papua

Artikel sebelumnyaAmnesty: Insiden Wamena, Satu Hari Paling Berdarah dalam 20 tahun Terakhir
Artikel berikutnyaSeorang Pelajar SMA di Paniai Ditemukan Tewas