Wakil Klasis Mugi Minta Jemaat di Paniai Doakan Kondisi Nduga

0
323

PANIAI, SUARAPAPUA.com — Pendeta Tomi Nirigi, wakil Klasis Mugi, kabupaten Nduga, pada perayaan HUT ke-81 masuknya Injil di Enarotali, Paniai, Senin (13/1/2020) di Gereja Antiokhia Iyaitaka, Enarotali, meminta mendoakan kondisi seluruh jemaat Gereja Kingmi Papua yang ada di kabupaten Nduga.

Harapan itu disampaikan karena jemaat Kingmi dan masyarakat pada umumnya yang mengungsi dan lari ke hutan sejak 2 Desember 2018 menyusul baku kontak antara TNI-Polri dan TPNPB, hingga kini belum kembali ke tempat.

“Kalau dihitung sampai hari ini sudah satu tahun 13 hari, jemaat yang mengungsi ke hutan belum kembali ke rumah mereka. Untuk itu, saya minta jemaat di Paniai tolong doakan supaya Tuhan sertai mereka di pengungsian. Dan supaya juga keadaan di Nduga segera aman,” tuturnya ketika panitia memberi kesempatan menceritakan kondisi jemaat Kingmi Papua di kabupaten Nduga.

Baca Juga: Setahun Mengungsi dari Rumah Sendiri, Bagaimana Nasib Pengungsi Nduga?

ads
Baca Juga:  Pastor Marthen Kuayo: Selain Bagi Uang dan Beras, Pemerintah Juga Harus Bagi Alat Kerja

Di hadapan jemaat dari 12 Klasis yang hadir, Nirigi menceritakan tragisnya kehidupan masyarakat Nduga di sejumlah tempat pengungsian. Kondisi mereka, lanjutnya, sangat memprihatinkan, sehingga butuh perhatian berupa makanan, pakaian, obat-obatan maupun tempat tinggal.

“Karena itu yang saya datang ke sini bersama (dibantu) pengurus Sinode Papua sampaikan kondisi kami di sana. Bersamaan di Deiyai dan Dogiyai juga ada teman-teman kami hari ini sampaikan seperti yang saya sampaikan di Paniai ini. Jadi, selain dukungan doa, kami harap sekali bantuan lain seperti pakaian, makanan, obat-obatan dan tempat tinggal,” kata Nirigi.

Menurutnya, penyebab jemaat tak mau kembali karena takut aparat keamanan.

“Beberapa kejadian di sana tembak sembarang ke masyarakat. Anak kecil, anak sekolah, orang tua, bahkan teman-teman pendeta dan gembala juga ditembak. Terus ada aparat kampung yang jaga keamanan di kampung juga ditembak. Itu bikin trauma jemaat di sana tidak mau kembali,” imbuhnya.

Baca Juga:  Duka Orang Papua Bagi Jatuhnya Pesawat MAF di Danau Sentani

Baca Juga: 10 Bulan Mengungsi, 189 Pengungsi Nduga Meninggal

Pendeta Tilas Mom, sekertaris Sinode Kingmi Papua, menambahkan, jemaat yang lari ke hutan, tinggal dalam goa-goa. Buah pandang, belalang dan kus-kus menjadi makanan keseharian mereka.

“Sesama kita di Nduga mengungsi sejak Desember 2018, mereka lari ke Kwiyawage, Wamena, Lanny Jaya, Tolikara, dan Timika. Mungkin juga ke daerah lain,” tuturnya.

Ia mengaku, jemaat bisa demikian karena aparat keamanan bertindak brutal dan tak profesional dalam menjalankan tugas negara menghadapi musuhnya.

“Masyarakat dilihat seperti OPM. Ketika aparat tidak ketemu, justru masyarakat yang sasaran tembak. Padahal mereka masyarakat biasa dan sebagai warga negara Indonesia yang mestinya dilindungi. Jadi, ini saya mau bilang, negara pakai alat negara bunuh warga negaranya sendiri,” ujarnya.

Baca Juga:  Warga Meepago Kutuk Pelaku Pembuka Palang Jalan Trans

Ketika berkunjung ke Nduga, kata dia, pihaknya menemukan mayat anak sekolah pakai seragam.

Baca Juga: Nduga Berduka Setelah Temukan Lima Mayat Dalam Satu Kuburan

Di Nduga, menurut Nirigi, terdapat 7 Klasis dengan jumlah 164 gereja dan umat sekitar 40-an ribu orang.

“Sekarang kami serukan agar ada doa pemulihan bagi seluruh umat Tuhan di Nduga, juga di Intan Jaya,” katanya.

Terkait bantuan, Pendeta Gerald Gobai, ketua Koordinator Gereja Kingmi Paniai, langsung mengimbau seluruh jemaatnya dari 12 Klasis untuk menyumbangkan pakaian layak pakai.

“Mulai hari ini sampai tanggal 18, kita akan buat posko untuk kumpulkan pakaian layak pakai. Saya minta juga per klasis kumpul uang supaya nanti kita serahkan ke tim kemanusiaan untuk Nduga yang ada di sini. Sambil itu, doa untuk Nduga jangan kita lupa,” ajak Gobai.

Pewarta: Stevanus Yogi
Editor: Markus You

Print Friendly, PDF & Email
ads