Bertambah Lagi ODP di Nabire

0
2307

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Jika sehari sebelumnya data kasus Covid-19 di kabupaten Nabire, Papua, sebanyak 9 orang dalam pemantauan (ODP), hari ini, Selasa (14/4/2020) Pukul 17:00 WIT, bertambah 20 orang. Total 29 ODP. Sedangkan, pasien dalam pengawasan (PDP) tak berubah alias satu PDP.

Data resmi ini sebagaimana dirilis dr. Frans Sayori, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 kabupaten Nabire, sore tadi.

Dari data terbaru itu, diketahui 17 ODP berdomisili di distrik Nabire, 5 orang dari distrik Teluk Kimi, 4 orang dari distrik Makimi, 2 orang dari distrik Nabire Barat, dan 1 orang berasal dari distrik Wanggar. Sedangkan, satu orang PDP, berasal dari distrik Nabire.

Baca Juga: Di Nabire Sudah Tiga ODP

Dokter Sayori menerangkan, status satu PDP yang ditetapkan sejak 4 April 2020, telah menjalani 10 hari masa karantina. Itu berarti masih empat hari lagi untuk pastikan hasilnya dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) provinsi Papua.

ads

Tak hanya yang status PDP, untuk ODP pun sama. Menurutnya, hasil pemeriksaan swab dikirim ke Lakesda Papua. Apakah hasilnya positif atau negatif, kata dia, harus menunggu dari Jayapura. Berharap hasilnya negatif agar yang bersangkutan segera kembali ke rumah.

Satu PDP yang diketahui bayi berusia tiga tahun itu kondisinya kian membaik, meski belum dinyatakan sehat dari gejala batuk dan demam. Batita itu telah menjalani dua kali pemeriksaan rapid test Covid-19.

Baca Juga:  FP2KP3 Desak Jabatan Kadinkes Papua Pegunungan Segera Dilantik

Baca Juga: Belasan Orang Tiba di Nabire Menambah Kepanikan

Lebih jauh dijelaskan, data ODP maupun PDP yang ditampilkan setiap hari oleh Tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 kabupaten Nabire, adalah data kumulatif yang terus berubah setelah ditangani petugas medis maupun proses karantina mandiri.

“Jadi, bisa saja ada ODP yang sudah dinyatakan sehat setelah 14 hari dan jelas itu otomatis datanya dihilangkan, tetapi bisa juga pada hari yang sama ada ODP baru, sehingga data ODP tidak berubah. Intinya, jumlah kumulatif itu yang kita tampilkan dan itu sesuai prosedur,” tuturnya.

Senin kemarin, menurut Frans, 26 orang yang terdiri dari ODP, PDP dan kontak badan, menjalani rapid test. Hasilnya, kata dia, akan dikirim ke Labkesda Papua besok. Sebab sesuai informasi, besok ada pesawat ke bandara Sentani.

Untuk itu, pihaknya tetap mempedomani standar operasional kesehatan yakni menunggu 14 hari.

Baca Juga: Semua Orang di Meepago Dilarang Melintas Jalan Trans Papua

Khusus 16 orang yang tiba di Nabire dengan menggunakan perahu bermoto pada Minggu (12/4/2020) sore, kata dokter Sayori, besok dijadwalkan akan menjalani pemeriksaan kesehatan di RSUD Nabire.

Dokter Sayori menambahkan, setiap PDP dan ODP dikarantina selama 14 hari. RSUD Nabire menanganinya secara intensif jika terdapat gejala berat. Tetapi bila gejalanya sudah hilang, tetap dikarantina di rumah selama 14 hari.

Baca Juga:  Ini Keputusan Berbagai Pihak Mengatasi Pertikaian Dua Kelompok Massa di Nabire

Sebelumnya, bupati Nabire, Isaias Douw, mengajak seluruh warga senantiasa mendukung kebijakan yang telah diambil dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

Pemkab Nabire menurutnya, terus lakukan berbagai upaya demi menekan lajunya penyebaran virus Corona di Nabire.

Baca Juga: Semua Akses Transportasi di Wilayah Meepago Ditutup

Bupati Douw ingatkan seluruh warga agar tetap di rumah sesuai anjuran pemerintah. Tak perlu keluar rumah. Juga tak bikin kegiatan yang menghadirkan banyak orang. Aktivitas pendidikan sudah diliburkan. Termasuk setiap jenis usaha pun dibatasi jam beroperasi.

Bupati Nabire juga minta warga hindari kerumunan orang. Baik di pasar, terminal maupun tempat-tempat keramaian seperti Togel (toto gelap).

“Itu sudah ditangani SatPol PP bersama Polres. Tiap hari petugas patroli di jalan raya. Saya dapat laporan. Kita tetap pertegas, karena ini resikonya semua orang bisa kena virus,” ujarnya.

Baca Juga: Meepago Cegah Covid-19, Begini Aksi Hari Pertama di KM 100

Ia bahkan mengaku mendapat laporan, beberapa oknum tak taati kebijakan pemerintah di saat ancaman Covid-19.

“Kalau masih ada yang tidak patuhi anjuran, bisa dibubarkan pakai rotan,” ujar Douw.

Selain itu, setiap orang wajib menjaga kebersihan rumah dan sekitarnya, rajin mencuci tangan dengan sabun, mengkonsumsi sayur dan buah-buahan, olahraga dan istirahat yang cukup. Jika merasa ada gejala, segera ke rumah sakit.

Baca Juga: Jalan Trans Nabire-Paniai Ditutup

Baca Juga:  Destructive Fishing di Kofiau, Ekosistem Bawah Laut Raja Ampat Terancam

Terkait masih adanya pergerakan orang dari daerah lain, Bupati Nabire menyatakan hal itu tak dapat dibenarkan karena pemerintah sudah nyatakan pembatasan wilayah. Bahkan Gubernur Papua melarang akses transportasi udara, laut dan darat.

“Sudah jelas tidak ada akses masuk ke Nabire. Tidak diizinkan orang dari daerah lain datang ke sini. Semua harus patuhi. Jangan melawan kebijakan. Ini untuk kepentingan kita semua supaya daerah ini aman dari ancaman virus Corona,” ujar Douw agak marah.

Baca Juga: Ratusan Warga Nabire Tempuh 33 Jam dari Manokwari

Masuknya warga dari Manokwari melalui jalan darat maupun lau dengan menumpang perahu bermotor, diharapkan segera ditangani oleh tim Satgas. Hal ini menghindari kemungkinan buruk yang tak dapat diduga dan berdampak luas.

Selain di tingkat kabupaten, kata Isaias, pihaknya terus berkoordinasi dengan para bupati di wilayah Meepago, yakni Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya, termasuk beberapa kabupaten tetangga lainnya.

Koordinasi tersebut setelah para bupati berkomitmen untuk bersama-sama bersinergi dalam upaya penanganan pencegahan penularan pandemi Covid-19.

Baca Juga: Empat Bupati di Meepago Sepakat Cegah Penyebaran Covid-19

Rapat koordinasi dilakukan di Nabire sehari setelah pertemuan di Gedung Negara Dok V Atas Kota Jayapura, Selasa 24 Maret 2020, yang berpuncak adanya kesepakatan bersama Gubernur Lukas Enembe dan Forkopimda, para bupati serta pihak terkait di provinsi Papua menghadapi virus Corona.

Pewarta: Markus You

Artikel sebelumnyaKetua DAP III Doberay Tutup Usia
Artikel berikutnyaAparat Indonesia Tembak Mati Tiga Anak Muda Papua di Timika