15 Juli: Hari Diskriminasi Terhadap Mahasiswa Papua dalam Keistimewaan Yogyakarta

0
1317
Mahasiswa Papua di Yogyakarta dalam peringatan pengepungan 2 tahun lalu. (Ansel - SP)

YOGYAKARTA, SUARAPAPUA.com — Kemarin Senin (16/7/2018) sore mulai jam 19:00 WIB hingga tengah malam, pukul 24:10 WIB, seratusan mahasiswa Papua datang ke asrama Kamasan I Papua di Jl. Kusumanegara Yogyakarta. Mereka ingin peringati dua tahun diskriminasi dan represi yang mereka alami.

Tepat dua tahun lalu, mulai tanggal 15 – 17 Juli 2016, ratusan mahasiswa Papua yang berkumpul di asrama Papua Yogyakarta dikepung, ditakuti dengan tembakan senjata, ditembaki gas air mata, puluhan motor milik mahasiswa Papua dirusaki, mahasiswa dilarang berdemonstrasi damai, diteriaki dengan kata-kata rasis dan kawan mereka, Obby Kogoya, dikriminalisasi, dipenjara melalui putusan pengadilan dengan dakwaan melawan petugas keamanan.

Ketua mahasiswa kabupaten Paniai di Yogyakarta, Anselmus Gobay, kepada suarapapua.com menjelaskan, kegiatan peringatan itu dihadiri ratusan orang dan semua antusias mengikutinya hingga akhir. Kegiatan dibuka dengan orasi pengantar dari wakil LBH Yogyakarta dan ketua AMP komite kota Yogyakarta, Julia Opki. Setelahnya, panggung dibuka untuk umum.

Emanuel Gobay, senior mahasiswa Papua di Yogyakarta dan pekerja di LBH Yogyakarta mengisi kegiatan dengan penjelasan tentang rasisme, diskriminasi, dan kilas balik peristiwa 2 tahun lalu.

Kilas Balik

Pengepungan asrama Papua pertama tahun 2016 terjadi mulai 26 April, ketika mahasiswa Papua berencana menyelenggarakan pentas seni dan budaya untuk memperingati hari kematian budayawan Papua, Arnold C. Ap. Malam sebelum kegiatan dimulai (25/4/2016), seseorang yang mengaku intelijen polisi mendatangi asrama dan menanyakan tentang persiapan acara dan mengintimidasi.

Pada 26 April pagi, puluhan Polisi gabungan Brimob mengelilingi bagian depan, sisi kiri dan kanan asrama Papua di Jalan Kusumanegara I Yogyakarta. Mereka mengenakan atribut dan membawa senjata lengkap. Mereka siagakan 7 truk Dalmas, 4 mobil Sabara, dan puluhan motor milik Brimob. Semua diparkir di depan asrama Papua Yogyakarta.

Akibatnya, bahkan para penghuni asrama pun tidak bisa keluar asrama untuk kuliah. Tapi mahasiswa tetap bikin kegiatan peringatan kematian Arnold Ap dibawah ‘panasnya’ intimidasi aparat. Acara jalan hingga selesai dengan aman.

Baca juga:
Ini Kronologi Represi Mahasiswa Papua di Yogyakarta
Mahasiswa Papua: Di Yogyakarta Kami Diteriaki Monyet

Pada 2 Mei 2016, aksi mimbar bebas sebagai bentuk solidaritas terhadap ULMWP agar menjadi bagian dari MSG juga dikepung aparat. Selanjutnya, pada 30 Mei malam, polisi gabungan Brimob kembali mengepung asrama Papua di Yogyakarta. Kali ini, sedikitnya 5 truk Dalmas dan 2 mobil patroli milik Kepolisian dan puluhan motor cross berjejer di depan asrama.

Pada 31 Mei, sekitar pukul 8:00 WIB situasi serupa terulang. Bahkan jumlah aparat bertambah lebih banyak. Mereka memarkirkan 9 truk Dalmas, 5 mobil patroli, dan puluhan motor berjejer. Para aparat membawa senjata amunisi lengkap.

Beberapa perwakilan dari asrama dipertemukan dengan Kapolresta Yogyakarta AKBP Pri Hartono Eling Lelakon dan Kasat Intelkam Polresta Yogyakarta Kompol Wahyu Dwi Nugroho di Hotel Fave yang berlokasi tidak jauh dari asrama.

Ketika penghuni asrama menanyakan alasan pengawasan tersebut, Hartono mengatakan kalau mereka menjalankan perintah Kapolri terkait pengamanan nasional.

Anggota Polsi dan Ormas di depan Asrama Kamasan I Papua Yogyakarta pada pertengahan Juli 2016. (IST – SP)

“Kami hanya mengamankan situasi saja. Jangan sampai kawan-kawan Papua melakukan tindakan yang tidak diinginkan bersama. Kan ada aksi KNPB di Jayapura?” jawab Hartono kala itu, sebagaimana dilansir rappler.com edisi 19 Juli 2016.

Pada tanggal 14 Juni, kembali terjadi pengepungan di asrama Papua Yogyakarta karena mahasiswa hendak memperingati hari Musa Mako Tabuni ditembak mati militer Indonesia di Jayapura, 14 Juni 2012 silam.

Namun, di Malang, Jawa Timur, secara terpisah polisi menangkap 26 mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang berunjuk rasa memperingati hari kematian Musa Mako Tabuni di depan Balai Kota Malang.

Pada 1 Juli 2016, polisi mengepung asrama mahasiswa Papua di Yogyakarta, namun masih senyap dari pemberitaan. Hal ini diindikasikan mengingat 1 Juli 1971 merupakan hari Proklamasi Kemerdekaan Papua. Walau diluar dikepung, mahasiswa Papua di dalam asrama menggelar upacara bendera pengibaran Bintang Kejora untuk memperingatinya.

Baru pada Rabu, 13 Juli 2016, mulailah insiden dengan melibatkan ormas. Pada tanggal 14 dan 15 Juli, keadaan semakin tegang dengan kehadiran ratusan aparat, lengkap dengan senjata dan mobil water canon.

Puncaknya tanggal 15 Juli 2016. Ratusan mahasiswa berkumpul di dalam asrama hendak mendukung ULMWP diterima jadi anggota penuh Melanesian Spearhead Group (MSG) di Honiara, Kepulauan Solomon, saat itu.

Tak hanya itu. Mahasiswa Papua juga dianiaya, dan sepeda motor mereka disita tanpa alasan jelas. Bahkan, mereka tidak diizinkan keluar asrama untuk membeli makanan.

Selain represifnya aparat, teriakan-teriakan rasis juga keluar dari mulut aparat dan ormas yang mengepung.

“Woee… monyet-monyet Papua, separatis, monyet, keluar!”, begitu Aris Yeimo, ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di Yogyakarta saat itu meniru ulang teriakan rasis yang disampaikan aparat dan ormas, kepada suarapapua.com ketika diwawancarai saat itu (16/7/2016).

Sebanyak 7 orang mahasiswa Papua ditangkap. Mereka saat itu hendak bergabung dengan massa aksi di asrama Papua. Satu diantaranya, Obby Kogoya, dikriminalisasi, ditangkap, didakwa melawan polisi yang bertugas, dia dijatuhi hukuman dipenjara setahun setelah setahun lamanya kasusnya ditunda-tunda.

Pewarta: Bastian Tebai